Sebelum Wafat, Bapak Memeluk Bajuku dengan Meneteskan Air Mata


Sosok bapak memang satu-satunya lelaki yang tidak akan pernah menyakiti kita. Seperti apapun kita. Dengan sikap selalu tenang tetapi tegas menghadapi masalah, ia akan menjadi sosok paling penting dalam hidup. Untuk sahabat Vemale, kisahku bersama bapak ini sangatlah berkesan dan indah.

Semasa kecil, bapak pernah merantau ke Malaysia untuk beberapa tahun. Sejak umur 3 tahun, bapak meninggalkanku untuk mencari nafkah ke Malaysia. Tetapi ketika aku mulai masuk TK bapak sudah kembali. Bapak selalu bersikap tenang, meskipun sewaktu kecil, aku sangat banyak tingkah dan sedikit nakal.
Dari dulu, bapak hanya 1 kali memarahiku. Iya, sejak dulu. Hanya sekali. Saat aku masih TK, ketika aku bolak-balik masuk kamar hanya untuk mencari sapu tangan. Dan tidak segera berangkat sekolah. “Kenapa nggak berangkat-berangkat? Cepetan berangkat. Masih muter saja!" ucap bapak dengan nada tinggi. Hanya itu kata-kata kasar yang diucapkan bapak kepadaku.

Bapak selalu menuruti apa yang aku minta. Tetapi selalu disertai dengan syarat. Misalnya ketika aku masih di kelas 6 MI/SD. Aku  meminta sepeda, bapak bilang akan menurutinya. Tetapi aku harus meraih predikat minimal ranking 3 di kelas. Dan aku bisa meraihnya.  Jadi bapak membelikanku sepeda. Padahal tadinya kukira bapak hanya bercanda.
Sejak saat itu, bapak selalu memberi support terutama dalam hal pendidikan. Ketika semasa MTS/SMP, bapak selalu berjanji menuruti apa yang aku minta. Asalkan aku dapat meraih apa yang beliau minta. Jadi kita sama-sama saling memberi. Meskipun terkadang ibu bilang ke bapak, "Jangan dimanja, nanti nggak baik." Dengan santainya bapak menjawab, "Nggak apa-apa baik sama anak. Biar besok kalo kita sudah tua, anak juga baik sama kita."

Sahabat Vemale, bapakku bersikap sangat humoris. Tapi dengan humorisnya, beliau menyisipkan pesan-pesan ilmu kehidupan.  Bapak orangnya pengertian dan tahu tentang keadaan anak-anaknya. Aku hanya mempunyai 1 adik. Dan kita hanya 2 bersaudara. Aku dan adik diperhatikan sama oleh bapak.

Untuk sebuah keinginan dan kreativitas, bapak tidak pernah komentar. Yang paling aku suka dari bapak, beliau tidak pernah memberi batasan apa yang kita ekspresikan. Misalnya ketika aku suka berorganisasi, pramuka, dll. Beliau hanya berpesan, "Ikut segala kegiatan nggak masalah, yang penting sekolahnya beres." Begitu juga dengan sikapnya terhadap adik.

Aku sering komentar dengan apa yang dilakukan adek. Yang banyak tingkahlah, yang centillah, yang apalah. Tapi bapak selalu menjawab, "Jangan dibatasi adek kamu, memang masih masanya kreatif. Nggak masalah banyak tingkah, asal dia suka.” Jadi antara aku dan adik sangat berbeda, karena yang kita suka berbeda. Tapi yang terpenting, kita bisa menonjolkan bakat kita. Jika ibu yang selalu membeda-bedakan antara aku dan adik masalah pendidikan, bapak malah memuji kita dengan bidang kita yang berbeda-beda. Aku yang lebih condong ke ilmu pengetahuan, dan adik yang lebih aktif dan gesit dalam hal fashion atau seni.

Semasa MA/SMA juga bapak selalu memberi pesan-pesan yang sangat berharga. Beliau selalu tau apa yang sedang aku rasakan dan apa yang membuat saya senang atau sedih. Tak terkecuali masalah cinta. Maklumlah, masa SMA adalah masa remaja. Jadi kita belum bisa menentukan yang terbaik untuk hidup kita. Bapak tahu kalau aku pernah pacaran, meskipun aku curhatnya ke ibu.

Beliau memang sangat paham bagaimana sifat anak-anaknya. Dan bagaimana sikap masa-masa puber itu. Sampai ketika aku akan lulus SMA, aku bilang minta kuliah ke kota. Karena aku dari desa, jadi aku pikir pendidikan di kota lebih baik dan lebih kompleks untuk dipelajari. Bapak yang hanya bekerja sebagai tukang berkata dengan tegas dan tenang, "Iya, asal kamu serius kuliah.”

Bapak tidak pernah perhitungan masalah pendidikan. Sebisa mungkin kebutuhanku untuk pendidikan tercukupi semua. Meskipun aku tahu, bapak bekerja penuh seharian. Bapak orangnya sangat bekerja keras dan tidak pantang menyerah. Dengan uang yang pas-pasan. Bapak masih sempat menyimpan uang untuk membangun rumah untuk kami. 2 tahun bapak mengumpulkan uang, dan bapak membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dengan cara sedikit demi sedikit. Karena bapak berprofesi sebagai tukang, jadi beliau mampu membangun rumah.

Dari situ, aku jadi penasaran dengan ilmu pembangunan. Jadi, saat mau lulus, aku daftar kuliah arsitektur. Tepatnya teknik arsitektur di kota Malang. Dan, ketika aku bilang ke bapak menyatakan perkiraan biaya yang tidak sedikit, beliau menjawab, "Yaah pilihan itu terserah kamu. Yang penting kan kamu niat dan tekun kuliahnya. Bapak kan cuma berusaha mencarikan uang." Meskipun aku sedikit tidak enak dengan bapak, tetapi beliau memang tidak mau membatasi keinginan anaknya. Sampai akhirnya aku mendapatkan pengumuman berhasil diterima di kampus tujuanku.

Sahabat Vemale, semasa hidupnya, Bapak selalu memberikan apa yang terbaik untukku. Ya, semasa hidupnya, karena 1 bulan lalu bapak telah meninggal karena penyakit. Iya, beliau telah meninggalkan kami untuk selamanya.

Dan itu adalah masa terberat saya. Di mana orang yang selalu membuatku kuat, ternyata telah meninggalkanku. Di tengah posisiku masih berjuang untuk menjadi arsitek. Dan ketika bapak berpulang, di saat yang sama aku tidak di rumah. Karena pada saat itu ibu tidak menyuruhku pulang, terhalang jarak antara rumah dan posisiku yang sangat jauh. Dan karena ibu tau kalau seminggu lagi saat itu aku akan pulang untuk lebaran idul adha di rumah. Ibu juga tak menyangka bapak akan berpulang secepat itu.

40 hari sebelum bapak meninggal, aku masih di rumah karena liburan sejenak. Beliau dalam kondisi yang sudah tidak baik. Tetapi beliau tidak pernah menyerah dengan penyakitnya. Beliau selalu bilang, "Saya mau sembuh. InsyaAllah penyakit ini sudah ikhlas saya terima." Saat itu, bapak berpesan kepadaku dan adik, "Hidup itu yang penting jujur. Jujur segalanya, besok kalau sudah kerja juga harus jujur. Pokoknya yang penting jujur segalanya." Itu adalah pesan terakhir yang dikatakan beliau untuk aku dan adik.  

Semasa hidup beliau, aku tidak pernah sekalipun melihat bapak menangis maupun menyerah. Pesan-pesan hidupnya yang selalu aku ingat hingga sampai kapanpun. “Jangan pelit sama orang, selagi kamu masih ada." "Yang rukun sama adik. Kamu cuma punya 1 saudara. Kalau nggak rukun yah terus bagaimana." Itu adalah pesan-pesan yang sangat mendalam bagiku.

Sejak bapak tidak ada, aku semakin belajar dan tahu tentang banyak hal yang dulu beliau ajarkan. Tetap semangat buat segalanya, tidak boleh pantang menyerah, tidak boleh mudah menangis saat ada masalah, dan akur sama adik. Satu lagi paling penting dari beliau adalah beliau selalu tersenyum dan tertawa, sesusah apapun yang beliau rasakan. Bapak adalah satu sayapku untuk terbang meraih mimpi. Meskipun bapak sudah pergi dan aku tidak bisa terbang, aku tetap bisa berlari mengejar mimpiku. Masih ada satu sayapku yang saat ini menemaniku, yakni ibu.

0 Response to "Sebelum Wafat, Bapak Memeluk Bajuku dengan Meneteskan Air Mata"

Post a Comment