KISAH HARU : "Kematian Terindah Fatimah, Istriku..."

9Trendingtopic - Sebuah teks sms sudah saya siapkan, satu jam sebelumnya. 8 tahun yang lalu. "Subhanallah, Allah mempertemukan kami dalam keadaan baik, dan memisahkan kami dalam keadaan yang baik pula. Innalillahi wainnailaihi rajiun. Telah berpulang ke rahmatullah, istri saya, fatimah yusuf hanafiah, pagi ini pukul 6 wib. Mohon maaf atas segala kesalahannya. Nourman. "

Saya ingat sekali detail teks ini. secara sadar saya ingin memberikan khabar gembira, bukan khabar duka yang memporak porandakan hati dan fikiran ikhwah semua. Teks ini adalah ungkapan sayang, kebahagiaan, dan juga kerinduan mendalam. Saya rangkum sejak pertama kali almarhum jatuh sakit.

Wafatnya istri saya, fatimah, adalah kematian terindah baginya. Bagaimana tidak ? Sakratul maut yang dihadapinya diisi dengan mendengar bacaan tilawah dan dialog optimis yang biasa dilakukan para perindu surga.


Dengarkan bisikan fatimah waktu itu :
"Abi, lihatlah di atas sana., indah sekali !" Katanya sambil menunjukkan ke sudut langit-langit ICCU .

Dia melanjutkan, menyebut satu persatu nama kami,
"....Abi.., ummi.., hamzah.., khalid .. umar.. , Kita sedang menaiki sebuah mobil. Di sana ada suara 'laailaahaillallah..'."

"Mau kemana kita, mi ?"
Tanya ku..

Fatimah pun menjawab cepat : " ke surga lah.. ". Jawabnya Optimis sekali.
Ini adalah malam ketiga dirinya di rawat intensif di Iccu RSUZA. Di sela nafasnya yang tersengal-sengal, fatimah kembali meminta kepastian kepada saya,
"Abi, ummi langsung saja ke surga??".

Saya pun menjawab pasti, "iya, mi."

Sungguh saya tak ragu. Dia sangat dekat dengan Tuhannya. Dia rutin tahajud sambil duduk atau berbaring meski lupa jumlah rakaatnya. Penyakit yang diderita membuat sebagian memorinya tak lagi sempurna.

Yang terbaring lemah dihadapan saya adalah seorang perempuan pejuang, ibu dari anak-anak saya yang sedang menjemput kematian terindahnya.

Tubuhnya ringkih. Jilbabnya masih terjaga dan tertutup rapi. Dia tak melepasnya demi kemuliaan dan kesucian. Peralatan medis masih melekat di jari-jarinya. Selang makanan masih di mulutnya. Ruangan itu begitu dingin. Ayat-ayat alquran mengalun pelan di telinganya. Fatimah masih melirik ke arah saya.

Sisa waktu kami pun tak lama lagi. Mengejar kesempatan, saya memintanya tersenyum terakhir kalinya. Fatimah pun tersenyum, manis sekali. Di luar masih gelap dan sepi. Angin berhembus pelan. Lembut menerpa rerumputan yang basah oleh embun malam.

Alhamdulillah, 25 juli 2007, Fatimah telah kembali ke haribaan Allah dengan sebaik-baiknya. Mewasiatkan untuk merawat anak-anak kami, dan memilih sendiri pengganti dirinya, seorang perempuan pejuang yang saat ini mendampingi hidup saya. Namanya seri amalia.

InsyaAllah fatimah husnul khatimah. Semoga segala kebaikan dunia akhirat dilimpah kan Allah kepada dirinya, keluarganya, anak-anaknya, dan sahabat seperjuangannya.. insyaallah.

Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan almarhumah...



Sumber : @nourmanh. 

6 Responses to "KISAH HARU : "Kematian Terindah Fatimah, Istriku...""

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    2. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    3. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
    4. This comment has been removed by a blog administrator.

      Delete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete