Seorang Istri yang Sabar dalam Rumah Tangganya



9TrendingTopicDalam mengarungi bahtera rumah tangga, sering kita jumpai perbedaan antara suami istri yang berujung dengan pertikaian dan perceraian. Padahal jika kita pandai menyikapi masalah yang hadir di tengah-tengah keluarga insyaAlloh tidak akan terjadi pertikaian apalagi sebuah perceraian.

Perbedaan dalam hubungan suami istri seolah menjadi sunatulloh yang sulit untuk kita hindarkan, terutama perbedaan karakter dan kepribadian. Bila di antara anak bersaudara saja yang terlahir dari satu rahim dan tumbuh kembang dalam satu asuhan saja banyak terjadi perbedaan, maka sudah sewajarnya pasangan suami istri terjadi perbedaan. Maka jika kita tidak pandai menyikapi perbedaan dengan bijak dan penuh kesabaran cita-cita luhur saat mengikrarkan janji setia akan menguap tak berbekas.

Kita dalam keluarga haruslah saling memahami. Dengan mengedepankan hati, isnyaAlloh menjadi pintu pertama untuk memunculkan rasa saling menghargai dan terbangunnya chemistry dengan pasangannya. Inilah sesungguhnya yang menjadi dasar kenyamanan dalam berumah tangga. Saling menghargai dan saling memahami. Karena dalam hidup ini tidaklah ada manusia yang sempurna. Tidaklah ada laki-laki bak superman maupun wanita bak wonderwoman yang tidak memiliki cela, kecuali junjungan kita Nabi Muhammad.

Tidaklah ada laki-laki bak superman maupun wanita bak wonderwoman yang tidak memiliki cela, kecuali junjungan kita Nabi Muhammad

Rasululloh SAW telah memberikan resep bagi kita dalam menyikapi perbedaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini.

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ جَعْفَرٍ حَدَّثَنِي عِمْرَانُ بْنُ أَبِي أَنَسٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَفْرَكُ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَر
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Ashim dari Abdul Hamid bin Ja’far berkata; telah menceritakan kepadaku `Imran bin Anas dari Umar bin Al Hakam dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Janganlah suami yang beriman membenci istri yang mukminah karena jika ia tidak menyukai satu perangainya tentu ada perangai lain yang ia sukai.(H.R Imam Muslim).

Imam An Nawawi mengomentari hadits di atas: “Tidak sepatutnya seorang Mukmin membenci perilaku pasangannya, sebab bila ia mendapati sifat yang ia benci dari dirinya, niscaya kalian akan mendapati sifat lain yang kau sukai. Mungkin ia tergolong jelek perangainya namun kenyataannya ia adalah seorang yang rajin beribadah atau bisa menjaga kehormatan ataupun kebaikan yang lain. wallohua’lam”.

Apa yang dijelaskan oleh Imam An Nawawiyah diatas berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Jika terjadi suatu perbuatan atau kebiasaan yang kurang disukai atau bahkan tidak disukai, disyari’atkan untuk mengingat kebaikan pasangan kita. Karena setiap perilaku seorang hamba yang baik pastilah ada sesuatu yang membuat bahagia hati kita.

Bila dalam rumah tangga masih terasa ada rasa ingin dimengerti, maka ketenangan hati tidak mungkin dirasakan. Seharusnya dalam rumah tangga kita harus saling mengerti bukan ingin dimengerti. Harus mengedepankan kewajiban, bukan mengedepankan hak.

…dalam rumah tangga kita harus saling mengerti bukan ingin dimengerti. Harus mengedepankan kewajiban, bukan mengedepankan hak

Rasululloh SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam An Nasa’i

الا اخبركم بنسائكم من أهل الجنة؟ الودود الولود، العؤود على زوجها، التى إذا أذت او أوذيت جاءت حتى تأخذ بيد زوجها ثم تقول: والله لا أذوق غمضا أو نوما حتى ترضى.( رواه النساء)
Artinya: “Maukah kalian aku beritahukan tentang istri-istri kalian yang termasuk ahli surga?” Yaitu mereka yang besar kasih sayangnya, subur (banyak anak), mudah minta maaf kepada suaminya, yang apabila bersalah atau disakiti dia segera mendatangi suaminya dan memegang tangannya seraya berkata:”Demi Alloh aku tidak akan memejamkan mata atau tidur sehingga engkau ridho (memaafkan)”. [H.R An Nasa’i]

Mungkin kadangkala terasa berat rasa hati ini bila harus selalu mengalah terhadap suami, namun itulah sesuatu yang kewajiban kita. Diri kita harus selau berlatih dan berlatih untuk selalu mengalah dan mengalah. Mengalah bukan berarti kalah, namun dengan mengalah sesungguhnya itulah salah satu kemuliaan hati seorang istri yang ingin mendambakan surga sebagai bukti sabar nya. Sebagai seorang istri kita haruslah memahami bahwa suami adalah pemimpin kita.

Kesabaran tidak akan hadir dalam hati kita secara tiba-tiba namun sabar bisa kita miliki dengan banyak berlatih dan belajar. Maka pandai-pandailah dalam mensyukuri banyak nikmat yang kita dapatkan.

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Ya Tuhan kami, tuangkanlah sabar atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.

Semoga Alloh menjadikan kita semua seorang yang sabar. Aamiin. Wallohua’lam bisshowab. (voa-islam)


sumber : akhwatindonesia.net

0 Response to "Seorang Istri yang Sabar dalam Rumah Tangganya"

Post a Comment