Awalnya Dipikir Naik Taxi Biasa, Wanita Ini Shock Begitu Tahu Si Sopir Ternyata ..

Awalnya Dipikir Naik Taxi Biasa, Wanita Ini Shock Begitu Tahu Si Sopir Ternyata ..

loading...
loading...


9Trendingtopic - Untuk menilai seseorang tidaklah bisa cuma sekedar melihat dari seperti apa penampilannya.
Sering kali kita tertipu, dan begitu tercengang mengetahui siapa orang yang kita anggap biasa tersebut.
Seperti kisah yang dialami seorang netter berikut ini.

Ia dibuat kagum saat mengetahui siapa sopir taxi yang mengantarnya adalah seorang ayah yang luar biasa.
Bahkan seperti mendapatkan pelajaran begitu beharga, ia langsung menuliskan pengalamannya yang begitu terperangah siapa sopir tersebut.
Bagi orang tua, apa yang dilakukan sopir ini adalah hal luar biasa.


Bagaimana tidak, kisah sopir ini pernah bikin heboh tanah air tahun 2013 saat anaknya berhasil menjadi seorang dokter dengan nilai nyaris sempurnah cumlaude 3.9 dan pernah masuk acara Hitam Putih yang di pandu Deddy Corbuzier.

Begini kisahnya. 

SUPIR TAXI ITU TERNYATA?
Kemarin malam aku berkunjung ke apartemen sahabat karibku Istiyati Santoso yang berada di Kalibata City. Untuk sekedar melepas rindu pada Istyati dan Eka Lausiana, dua sahabatku saat tinggal di negri Singa.

Karena letaknya dekat dengan Stasiun KA. Maka kuputuskan untuk naik komuter line kesana juga saat kembali, sekalian mengenalkan ibenk moda transportasi yang jarang di gunakan olehnya.
Namun ternyata KA yang kami tumpangi sangat padat, saat kami berangkat juga saat pulang, karena bersamaan dengan rombongan orang pulang kerja.

Sampai di stasiun pondok cina Depok. Waktu menunjukkan pk.21.30. Malam terus merangkak, usai membeli jus melon penghilang dahaga, ibenk, Eyang Yu dan aku segera menyebrang, menunggu taxi di depan SD Pondok Cina.
Aku segera menyetop sebuah taxi blue bird, taxi segera berhenti, namun kemudian supirnya menunjuk-nunjuk kedepan.

Oh ternyata ada antrian taxi yang mengetem disana. Kami masuk ke dalam taxi yang posisi antriannya paling depan.
Usai saling menyapa, taxi melaju dengan kecepatan sedang. Tiba-tiba di jl. Juanda, Hp supir taxi tadi berbunyi, kemudian kudengar percakapan antara lain: " iya Nduk (panggilan untuk anak perempuan). Bapak masih di jalan, bawa tamu, nanti Bapak hubungi ya!"

Tak lama hp berhenti berbunyi, aku bertanya " Bapak dari Jawa". Tanyaku, mengingat dialeknya tadi kental dengan logat jawa. Aku memang terbiasa mengajak ngobrol pengemudi taxi dan bertukar cerita, untuk mencairkan suasana.
"Iya Bu, saya dari Solo".
Kemudian kami saling memperkenalkan diri, aku berkata bahwa kami juga berasal dari jawa tengah. 
Akhirnya kutahu Supir taxi yang ramah itu bernama Pak Suradi ayah 2 orang anak, yang pertama perempuan dan yang kedua laki-laki.
Pak Suradi bercerita bahwa yang tadi menelphonenya itu putri pertamanya yang tinggal di kalimantan. Aku bercerita bahwa kami juga baru pulang dari Pontianak Kalbar.
"Putri Bapak tinggal dimana? " Tanyaku.

"Tadinya di Bulukumba Bu, tapi kemudian pindah ke Muara pahu, 15 jam dari Samarinda".
"Jauh sekali," aku berseru
Eyang yu yang pernah tinggal di daerah itu berkata, " iya saya dulu juga pernah tinggal di sana, malah semalam baru sampai desa pemukiman transmigran".
Iseng aku bertanya "Anak Pak Radi ikut suaminya tugas dimana?
"Suami anak saya di Samarinda, anak saya kerja di Puskesmas".

Masih dengan perasaan yang biasa, aku melanjutkan obrolan, "Jadi perawat atau bidan disana Pak?"
"Alhamdullilah putri saya Kepala Puskesmas disana Bu".
"Wow.. "aku terkejut, segera aku menegakkan tubuh di kursi dan memanjangkan jangkauan pendengaranku. Mendengar jawaban itu aku jadi penasaran.
"Hebat sekali Pak, maaf mungkin Pak Radi bisa bercerita pada saya, agar bisa menjadi inspirasi"
"Boleh Bu, tapi maaf mungkin Ibu pernah melihat tayangan acara Hitam Putih yang di Pandu Dedy Cobuzier, juga acara Kick Andi yang bercerita tentang "Anak penjual gorengan yang jadi dokter?"
Aku menjawab "Tidak Pak"

eyang Yu berkata "Iya saya nonton, sekitar tahun 2012"
"Iya Ibenk juga nonton Bu", putraku menyambung pembicaraan.
"Iya benar " kata Pak Radi.
Dia kemudian bercerita : "Kami punya seorang putri yang bernama Dewi Sartika, sejak kecil dia menjadi siswi berprestasi di sekolah. Saat SMP Dewi masuk sekolah di SMP Negeri 1 Bogor, kemudian SMA Dwi Warna boarding school, berkat kepandaiannya dia bahkan mendapat bea siswa dan masuk kelas akselerasi yang hanya sekolah selama 2 tahun saja.

Setamatnya dari SMA, Dewi masuk kuliah ke Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) melalui jalur undangan.
Sebagai seorang putri dari sopir taxi yang sudah berprofesi selama 30 th, dan ibu penjual gorengan. Tak terbersit sekalipun di benak Dewi untuk menjadi seorang dokter. Karena biaya yang sangat tinggi. Dia bahkan bercita-cita hanya ingin menjadi seorang guru.

Namun berkat usaha yang gigih, semangat untuk merubah nasib. Membawa peruntungan yang positif dalam hidup Dewi.
Dia belajar sungguh-sungguh diperantauan, hanya dengan mengandalkan bea siswa serta usaha nya mengajar berbagai les, untuk tambahan biaya hidup dan kuliah.
Jerih payah tersebut berbuah manis dan berhasil, menghantarkan Dewi sebagai lulusan terbaik atau Cum Laude dengan IPK 3.9 nyaris sempurna.

Suatu kebanggaan bagi Dewi secara Pribadi, juga kebanggaan orang tua sederhana yang bahagia melihat putri mereka, berhasil menuntaskan tugas pendidikan menjadi seorang dr. Umum.
dr. Dewi Sartika kemudian di tempatkan di Bulukumba Sulawesi, hingga menemukan pujaan hati, alumni Univ. Sebelas. Maret (UNS) yang bekerja di Oil and gas company.

Keluarga kecil itu kemudian pindah ke Samarinda, Kaltim, tempat Menantu Pak Supardi bertugas.
Mereka kemudian mengadopsi dua orang anak, namun kemudian dr. Dewi ditugaskan sebagai Kepala Puskesmas Muara Pahu Kaltim.
Disana lahirlah 2 anak pasangan ini, yang sekarang berusia 4 th dan 3 bln. Karena masih terlalu kecil, cucu-cucu pak Pardi ini ikut Ibunya di Muara Pahu, dan bertemu setiap 2 minggu sekali dengan ayah dan 2 orang kakak yang lain.

Kisah ini pernah ditulis oleh majalah wanita "Femina", dan oleh Tim Hitam Putih dan Kick Andi, ditelusuri hingga putri kami diundang dalam acara mereka".
Pak Suradi mengakhiri ceritanya, kami bertiga di dalam taxi terdiam.

Aku menarik nafas panjang, kemudian berkata "Luar biasa pak Radi, sebuah kisah inspiratif. Saya tidak menyangka malam ini bertemu seorang yang hebat seperti Bapak Ujarku".
"Saya cuma sopir taxi biasa Bu, istri saya juga cuma seorang penjual gorengan saja, tanpa usaha dari anak saya sendiri. Dia juga bukan apa-apa sekarang, kami hanya membantu dengan dukungan moril dan do'a" .
"Kalau boleh tahu, putra bungsu Bapak dimana sekarang?"
"Putra kami sedang kuliah di jurusan Akutansi Fak. Ekonomi Univ Pakuan Bogor, biarlah dia menemani hari tua kami, terutama Ibunya. Karena sayapun mencari nafkah sebagai supir taxi. 

Hingga keluar kota Bogor". Pak Pardi menambahkan.
Tak terasa Taxi yang kami tumpangi sudah berbelok memasuki jl. Bhakti ABRI hingga sampai di depan rumah kami, yang berhalaman rindang. Rasanya belum puas aku mendengar cerita dari Pak Radi dan istri, kiat-kiat menyukseskan 2 orang anak, dalam keterbatasan.
Aku masih terkagum-kagum pada pribadi Bapak Suradi, sopir taxi yang memiliki anak berprestasi.
Dua pelajaran yang dilihat ibenk di malam itu.

Yang pertama ketika dengan mata kepalanya sendiri dia menyaksikan police line, saat seorang pria mengakhiri hidupnya dan loncat dari lantai 10 apartemen tempat tinggal temanku, hingga tewas seketika.
Masalah yang tidak dapat diselesaikan serta pikiran yang pendek, membuat pria tadi mengambil keputusan yang salah untuk mengatasi problem hidupnya.

Yang kedua, ibenk melihat dengan kepalanya sendiri. Berkenalan dengan Supir taxi yang hebat, suami dari penjual gorengan.
Yang meniti hidup yang keras ini dengan penuh semangat, mengurai hambatan dan tantangan, menjadi sebuah kesuksesan.

Sahabatku, "Hidup ini adalah Pilihan, dan perjuangan". Apapun yang kau pilih itu semua ada dalam genggamanmu.
Tetap melangkah ditengah badai, hingga melihat mentari bersinar indah. Atau kembali ke langkah awal, tanpa hasil apa-apa kecuali kegelapan.

Sejarah akan mencatat, apakah engkau seorang Pahlawan atau pecundang. #Riniinspiringst ory Depok, 13 Juli 2017. Rini Indardini

Miskin Bukan Halangan, Dewi Jadi Dokter

Seperti diketahui, anak Suradi bernama Dewi Sartika mempunyai cita-cita untuk menjadi dokter sejak kecil.
Dalam acara Hitam Putih 2013 silam Dewi mengatakan jika memang sejak kecil ia ingin menjadi seorang dokter.
Dewi Sartika, yang berasal dari Desa Sukasari, Bogor dan berusia 24 tahun, berbagi pengalaman bagaimana akhirnya dia bisa meraih cita-citanya dengan anak-anak asuh Plan yang datang dari berbagai desa di Pulau Jawa.

“Bapak saya sopir angkot dan ibu tukang gorengan. Cita-cita saya sejak kecil memang ingin jadi dokter,” ujarnya.
Dewi, yang namanya diambil dari nama pahlawan emansipasi yang berasal dari Bandung, Jawa Barat, Dewi Sartika, menyemangati anak-anak asuh yang lain untuk terus berusaha dan mengejar cita-cita mereka.
“Kalau kita mau berusaha pasti ada cara. Banyak yang berpikir kuliah kedokteran itu mahal. Tapi Alhamdulillah selama kuliah saya tidak pernah membayar,” kata Dewi.

Selama menempuh Pendidikan di Universitas Diponegoro, Semarang, Dewi berusaha meminimalisir biaya kuliahnya.
“Buku saya pinjam dari kakak kelas. Jaman sekarang lebih enak lagi karena sudah ada internet, bisa download e-book,” lanjutnya lagi.
“Jangan khawatir dan jangan malu, di kampus saya ada juga anak tukang becak dan anak penjual nasi kucing. Yang penting mau berusaha,” kata Dewi.

semoga memberi inspirasi bagi pembaca..

sumber : palembang.tribunnews.com
loading...

ADS

Awalnya Dipikir Naik Taxi Biasa, Wanita Ini Shock Begitu Tahu Si Sopir Ternyata ..
4/ 5
Oleh