Showing posts with label kisah hikmah. Show all posts
Showing posts with label kisah hikmah. Show all posts

Wanita Ini 7 Kali Naik Haji, Saat Meninggal Jenazahnya Tak Diterima Bumi, Ternyata Ini yang Sering Dilakukan Semasa Hidup !!



9Trendingtopic - Kematian menjadi misteri dan telah ditentukan oleh Allah SWT sang pencipta seluruh yang ada di langit dan bumi.
Tidak ada yang bisa memajukan baik semenit atau mundur walau semenit, kecuali atas izin Allah.
Begitu juga akhir kematian tergantung dengan amal perbuatan selagi masih hidup.

Seperti kisah nyata berikut ini.

Seorang wanita yang memiliki putra yang sangat menyanyanginya berakhir tragis akibat perbuatannya sendiri.

Berikut kisahya yang dilansir dari Kisah Islam Penuh Hikmah.

Pada suatu ketika, tersebutlah seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan ibadah Haji.
Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu.
Sebagai Muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan.
Singkatnya ibu dan anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun.

Akhirnya merekapun tiba di tanah suci dan merekapun melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah dan untuk menunaikan ibadah Haji
"Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruan-Mu ya Allah" Hasan menggandeng ibunya dan berbisik,
“Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah)."
Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu.

Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam.
Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.
Hasan kembali membisiki ibunya.
Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya.
Wajah ibunya pun tampak kebingungan.
Ibunya tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan.

Beberapa kali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.
Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya.
Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita.
Selama tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah.
Ia shalat memohon ampunan-Nya.

Hati Hasan begitu sedih.
Siapapun yang datang ke Baitullah, pasti akan mengharapkan rahmat-Nya.
Akan terasa hampa menjadi tamu Allah, jika tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubat yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugerah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak.
Anak yang sholeh itu berniat akan kembali membawa ibunya berhaji tahun depan.
Tapi ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.
Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi.

Ibunya kembali dibutakan didekat Kabah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan simbol persatuan umat Islam itu.
Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.
Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci di tahun berikutnya untuk melaksanakan ibadah Haji lagi.

Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah.
Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak dimatanya hanyalah gelap dan gulita.
Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah, ibunya.
Kejadian itu pun berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.
Hasan tak habis pikir, ia tak mengerti, apa yang menyebabkan ibunya menjadi buta di depan Ka’bah.

Padahal, setiap berada jauh dari Ka’bah, penglihatannya selalu normal.
Ia bertanya-tanya, apakah ibunya punya kesalahan sehingga mendapat azab dari Allah SWT?
Apa yang telah diperbuat ibunya, sehingga mendapat musibah seperti itu?
Segala pertanyaan berkecamuk dalam dirinya.

Akhirnya diputuskannya untuk mencari seorang alim ulama, yang dapat membantu permasalahannya.
Beberapa saat kemudian ia mendengar ada seorang ulama yang terkenal karena kesholehannya dan kebaikannya di Abu Dhabi (Uni Emirat).
Tanpa kesulitan berarti, Hasan akhirnya bisa bertemu dengan ulama yang dimaksud.
Ia pun mengutarakan masalah kepada ulama yang shaleh ini.

Ulama itu mendengarkan dengan seksama, kemudian meminta agar Ibu Hasan mau menelponnya.
Anak yang berbakti ini pun pulang.
Setibanya ditanah kelahirannya, ia meminta ibunya untuk menghubungi ulama di Abu Dhabi tersebut.

Beruntung, sang Ibu mau memenuhi permintaan anaknya.
Ia pun mau menelpon ulama itu, dan menceritakan kembali peristiwa yang dialaminya di tanah suci.
Ulama itu kemudian meminta Sarah untuk berintrospeksi, mengingat kembali, mungkin ada perbuatan atau peristiwa yang terjadi padanya dimasa lalu, sehingga ia tidak mendapat rahmat Allah.

Sarah diminta untuk bersikap terbuka, mengatakan dengan jujur, apa yang telah dilakukannya
“Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” kata ulama itu pada Sarah.
Sarah terdiam sejenak.

Kemudian ia meminta waktu untuk memikirkannya.
Tujuh hari berlalu, akan tetapi ulama itu tidak mendapat kabar dari Sarah.
Pada minggu kedua setelah percakapan pertama mereka, akhirnya Sarah menelpon.
“Ustad, waktu masih muda, saya bekerja sebagai perawat di rumah sakit,” cerita Sarah akhirnya
“Oh, bagus… Pekerjaan perawat adalah pekerjaan mulia,” potong ulama itu.
“Tapi saya mencari uang sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara, tidak peduli, apakah cara saya itu halal atau haram,” ungkapnya terus terang.

Ulama itu terperangah. Ia tidak menyangka wanita itu akan berkata demikian.
“Disana…” sambung Sarah,
“Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka.”

Ulama tersebut amat terkejut mendengar penjelasan Sarah.
“Astagfirullah…” betapa tega wanita itu menyakiti hati para ibu yang diberi amanah Allah untuk melahirkan anak.
Bayangkan, betapa banyak keluarga yang telah dirusaknya, sehingga tidak jelas nasabnya.

Apakah Sarah tidak tahu, bahwa dalam Islam menjaga nasab atau keturunan sangat penting.
Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas.
Padahal, nasab ini sangat menentukan dala perkawinan, terutama dalam masalah mahram atau muhrim, yaitu orang-orang yang tidak boleh dinikahi.
“Cuma itu yang saya lakukan,” ucap Sarah.
“Cuma itu?" tanya ulama terperangah.
“Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah

Anda hancurkan!” ucap ulama tersebut dengan nada tinggi.
“Lalu apa lagi yang Anda kerjakan?” tanya ulama itu lagi sedikit kesal.
“Di rumah sakit, saya juga melakukan tugas memandikan orang mati.”
“Oh bagus, itu juga pekerjaan mulia,” kata ulama.
“Ya, tapi saya memandikan orang mati karena ada kerja sama dengan tukang sihir.”

“Maksudnya?” tanya ulama tidak mengerti.
“Setiap saya bermaksud menyengsarakan orang, baik membuatnya mati atau sakit, segala perkakas sihir itu harus sesuai dengan syaratnya, yaitu dipendam di dalam tanah. Akan tetapi, saya tidak menguburnya didalam tanah, melainkan saya masukkan benda-benda itu ke dalam mulut orang yang mati.”

“Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya. Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan.”

Mendengar penuturan Sarah yang datar dan tanpa rasa dosa, ulama itu berteriak marah.
“Cuma itu yang kamu lakukan ? Masya Allah…! Saya tidak bisa bantu Anda. Saya angkat tangan”.
Ulama itu amat sangat terkejutnya mengetahui perbuatan Sarah.
Tidak pernah terbayang dalam hidupnya ada seorang manusia, apalagi ia adalah wanita, yang memiliki nurani begitu tega, begitu keji.

Tidak pernah terjadi dalam hidupnya, ada wanita yang melakukan perbuatan sekeji itu. Akhirnya ulama itu berkata,
“Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda.”
Setelah beberapa lama, sekitar tujuh hari kemudian ulama tidak mendengar kabar selanjutnya dari Sarah.

Akhirnya ia mencari tahu dengan menghubunginya melalui telepon.
Ia berharap Sarah telah bertobat atas segala yang telah diperbuatnya.
Ia berharap Allah akan mengampuni dosa Sarah, sehingga Rahmat Allah datang kepadanya.
Karena tak juga memperoleh kabar, ulama itu menghubungi keluarga Hasan di Mesir.

Kebetulan yang menerima telepon adalah Hasan sendiri.
Ulama menanyakan kabar Sarah, ternyata kabar duka yang diterima ulama itu.
“Ummi sudah meninggal dua hari setelah menelpon Ustad,” ujar Hasan.
Ulama itu terkejut mendengar kabar tersebut. “Bagaimana ibumu meninggal, Hasan?” tanya ulama itu.

Hasan akhirnya bercerita, Setelah menelpon sang ulama, dua hari kemudian ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia.
Yang mengejutkan adalah peristiwa penguburan Sarah.
Ketika tanah sudah digali, untuk kemudian dimasukkan jenazah atas izin Allah, tanah itu rapat kembali, tertutup dan mengeras.

Para penggali mencari lokasi lain untuk digali. Peristiwa itu terulang kembali.
Tanah yang sudah digali kembali menyempit dan tertutup rapat.
Peristiwa itu berlangsung begitu cepat, sehingga tidak seorangpun pengantar jenazah yang menyadari bahwa tanah itu kembali rapat.
Peristiwa itu terjadi berulang-ulang.

Para pengantar yang menyaksikan peristiwa itu merasa ngeri dan merasakan sesuatu yang aneh terjadi.
Mereka yakin, kejadian tersebut pastilah berkaitan dengan perbuatan si mayit.
Waktu terus berlalu, para penggali kubur putus asa dan kecapaian karena pekerjaan mereka tak juga usai.
Siang-pun berlalu, petang menjelang, bahkan sampai hampir maghrib, tidak ada satu-pun lubang yang berhasil digali.

Mereka akhirnya pasrah, dan beranjak pulang.
Jenazah itu akhirnya dibiarkan saja tergeletak di hamparan tanah kering kerontang.
Sebagai anak yang begitu sayang dan hormat kepada ibunya, Hasan tidak tega meninggalkan jenazah orang tuanya ditempat itu tanpa dikubur.
Kalaupun dibawa pulang, rasanya tidak mungkin.

Hasan termenung di tanah perkuburan seorang diri.
Dengan izin Allah, tiba-tiba berdiri seorang laki-laki yang berpakaian hitam panjang, seperti pakaian khusus orang Mesir.
Lelaki itu tidak tampak wajahnya, karena terhalang tutup kepalanya yang menjorok ke depan.
Laki-laki itu mendekati Hasan kemudian berkata padanya,”Biar aku tangani jenazah ibumu, pulanglah!” kata orang itu.

Hasan lega mendengar bantuan orang tersebut, Ia berharap laki-laki itu akan menunggu jenazah ibunya.
Syukur-syukur mau menggali lubang untuk kemudian mengebumikan ibunya.
“Aku minta supaya kau jangan menengok ke belakang, sampai tiba di rumahmu,” pesan lelaki itu.
Hasan mengangguk, kemudian ia meninggalkan pemakaman.

Belum sempat ia di luar lokasi pemakaman, terbersit keinginannya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan jenazah ibunya.
Sedetik kemudian ia menengok ke belakang.
Betapa pucat wajah Hasan, melihat jenazah ibunya sudah dililit api, kemudian api itu menyelimuti seluruh tubuh ibunya.

Belum habis rasa herannya, sedetik kemudian dari arah yang berlawanan, api menerpa wajah Hasan.
Hasan ketakutan.
Dengan langkah seribu, ia pun bergegas meninggalkan tempat itu.
Demikian yang diceritakan Hasan kepada ulama itu.

Hasan juga mengaku, bahwa separuh wajahnya yang tertampar api itu kini berbekas kehitaman karena terbakar.
Ulama itu mendengarkan dengan seksama semua cerita yang diungkapkan Hasan.
Ia menyarankan, agar Hasan segera beribadah dengan khusyuk dan meminta ampun atas segala perbuatan atau dosa-dosa yang pernah dilakukan oleh ibunya.

Akan tetapi, ulama itu tidak menceritakan kepada Hasan, apa yang telah diceritakan oleh ibunya kepada ulama itu.
Ulama itu meyakinkan Hasan, bahwa apabila anak yang soleh itu memohon ampun dengan sungguh-sungguh, maka bekas luka di pipinya dengan izin Allah akan hilang.

Benar saja, tak berapa lama kemudian Hasan kembali mengabari ulama itu, bahwa lukanya yang dulu amat terasa sakit dan panas luar biasa, semakin hari bekas kehitaman hilang.
Tanpa tahu apa yang telah dilakukan ibunya selama hidup, Hasan tetap mendoakan ibunya.
Ia berharap, apapun perbuatan dosa yang telah dilakukan oleh ibunya, akan diampuni oleh Allah SWT.

sumber : palembang.tribunnews.com

Sang Dokter Hampir Tewas Tersambar Petir! Tak Disangka Doa Ini yang Membuka Matanya Hingga Ia Menangis !!



9Trendingtopic - Kita tak akan pernah tahu rahasia apa yang ada dibalik setiap kejadian yang menimpa diri kita.
Yang menurut kita baik, sering kali tidak begitu baik untuk kita. Begitu juga sebaliknya.
Namun yang menimpa seorang dokter ini begitu mengharukan.

Ia sudah berniat untuk membantu warga yang membutuhkan.
Dengan menumpang sebuah pesawat ia sengaja pergi kepelosok.
Tapi sayang, ketiaka ia  harus bergegas sampai ketujuan,kejadian nahas malah membuatnya terhenti dan ia terdampar di sebuah hutan terpencil.
Namun, kejadian mengerikan itu merubah hidupnya.

Begini kisahnya
Alkisah,
Suatu ketika, seorang dokter spesialis syaraf terkemuka di Pakistan, terbang menggunakan pesawat kecil yang hanya berisi beberapa penumpang saja.
Di tengah penerbangan, cuaca tampak sangat mendung. Bahkan langit mendadak gelap. Awan begitu pekat ditimpali kilat yang menyambar-nyamb ar.

Sangat terasa turbulensi (guncangan) dalam pesawat. Tiba-tiba mesin pesawat terkena petir, yang membuat satu mesin rusak.
Pesawat pun terpaksa harus mendarat darurat.
Beruntung ada sebuah bandara kecil yang dekat lokasi kejadian.
Pesawat berhasil mendarat dengan selamat.

Namun ternyata bandara itu berada di wilayah pelosok yang sangat terpencil.
"Apakah kalian bisa memperbaiki pesawat ini?" tanya dokter.
Ternyata tidak ada seorangpun yang dapat memperbaiki pesawat. Jadi semua penumpang harus menunggu.
"Berapa lama kita harus menunggu di sini?" tanya dokter.
"Mungkin cukup lama," jawab pilot.
"Tapi aku harus segera tiba di kota sebelah. Sangat penting", lanjut dokter.
"Untuk ke sana, anda perlu waktu 3 jam jika naik mobil", jawab pilot.
"Oh ya. Aku akan sewa mobil saja".

Akhirnya dokter memutuskan menyewa mobil dari bandara itu untuk menuju kota tujuan.
Mobil mulai bergerak.
Namun cuaca masih tetap mendung. Langit gelap, kilat menyambar dengan kencang.
Hujan pun turun, sangat deras. Seakan air diguyurkan dari langit. Sangat lebat.
Mobil pun berhenti, tidak dapat bergerak lebih jauh lagi, karena ternyata harus melewati jalan berlumpur.

Air mulai membanjiri jalan tanah becek itu.
Dokter segera sadar, ia tidak bisa kemana-mana lagi.
Dalam situasi gelap, dokter melihat ada sebuah rumah kecil terletak di ujung sana.
"Kita pergi ke sana saja. Kita bisa berteduh sembari menumpang shalat. Mungkin disana juga ada makanan barang sedikit," kata dokter kepada sopir.

Mereka pun memutuskan untuk menuju rumah kecil tersebut. Lokasi rumah itu sungguh sangat terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk lainnya.
Dokter mengetuk pintu rumah dengan perlahan.
"Assalamu alaikum..."
Seorang nenek tua membukakan pintu sembari menjawab salam.
"Ada apa Nak?" tanya sang Nenek.

Dokter segera menceritakan semua yang dialami barusan.
"Sekarang kami hanya ingin menumpang shalat dan istirahat sebentar Nek. Menunggu hujan reda...." ujar dokter.
"Tidak masalah Nak, kalian boleh masuk..."
Nenek mempersilakan tamu shalat di ruang mushalla kecil di dalam rumahnya.

Di dekat ruang mushalla, tampak seorang anak kecil tengah berbaring.
Tiap beberapa waktu tertentu, sang Nenek tampak gelisah menengok keadaan anak kecil itu.
Nenek lantas duduk di ruang mushalla. Ia pun berdo'a dan menunaikan shalat.

Setelah selesai shalat, dokter menyapa Nenek.
"Terima kasih banyak Nek. Kami sudah menumpang sholat di sini. Kalau boleh tahu, apa yang terjadi pada anak kecil itu"? tanya dokter.
"Itu adalah anak yatim. Ia tengah sakit parah. Aku adalah nenek dari anak ini..." jawab Nenek.
"Kami telah mengunjungi banyak dokter di daerah sini. Mereka memberitahu kami, bahwa hanya ada satu dokter spesialis yang dapat menolong anak ini..." lanjut Nenek.
"Kami sudah mencoba untuk menemuinya. Tapi mereka minta kami untuk menunggu enam bulan lagi. Tempatnya pun sangat jauh...."
"Sejak hari itu, aku selalu berdo'a kepada Allah : Ya Allah, mudahkan urusan kami. Anak ini sakit, mudahkan urusan kami ya Allah..." ujar Nenek
"Siapa nama dokter spesialis itu Nek?" tanya dokter.
"Namanya dokter Ishan...." jawab Nenek.

Mendengar jawaban itu, dokter pun langsung menangis.
"Kenapa engkau menangis, Nak?" tanya Nenek.
"Nenek, do'amu baru saja dijawab Allah. Akulah dokter Ishan yang kalian cari itu...."
"Mungkin karena do'amu, petir menyambar mesin pesawat yang aku tumpangi. Kami mendarat darurat. Lalu kami menyewa mobil. Hujan turun lagi menghentikan kami dan seterusnya kami ke sini...."

Mendengar penjelasan itu Nenek menangis terharu. Ia segera bersujud, bersyukur kepada Allah.
Subhanallah....
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Semua alam akan menuruti apapun yang Dia kehendaki untuk menyelesaikan suatu urusan. Untuk mengabulkan sebuah do'a.

Sungguh luar biasa. Seorang dokter spesialis neurologi yang sangat sulit ditemui, bahkan tidak bisa bertemu tanpa perjanjian sebelumnya.
Pasien harus antri 6 bulan untuk konsultasi.
Tapi perhatikan, Allah telah menggiring dokter spesialis itu sampai ke rumah Nenek yang terpencil, dengan cara-Nya.

Allah yang menggerakkan dokter Ishan untuk mengetuk pintu rumah Nenek, masuk ke dalam, menunaikan shalat di ruang mushalla, sampai akhirnya melakukan pengobatan terhadap anak yatim yang sakit parah itu....
Subhanallah....
Sungguh, Allah Maha Mengabulkan do'a.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Dan Tuhan kalian berfirman : berdo'alah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan kalian."

sumber : palembang.tribunnews.com

Suami Koma Selama 15 Tahun, Begitu Sadar Ia Kaget Lihat Perempuan Lain Lakukan Hal Ini !!


9Trendingtopic - Manusia itu bersifat lemah , membutuhkan perlindungan serta pertolongan. Kemampuan kita selaku manusia dibatasi oleh penglihatan, pendengaran, akal dan fisik.
Sungguh amat banyak kejadian yang terjadi diluar jangkauan kemampuan manusia untuk mengatasinya dan selayaknya meminta tolong kepada Tuhannya, melalui ibadah dan doa.

Janganlah pernah putus asa jika Tuhanmu adalah Allah. Cukup ketuklah pintunya dengan doamu yang tulus.
Hiaslah do'amu dengan berhusnudzon kepada Allah Yang Maha Suci. Lalu yakinlah dengan pertolongan yang dekat dariNya.
Kisah yang menggetarkan hati ini tampaknya sangat cocok untuk menggambarkan betapa dahsyatnya kekuatan doa, seperti disadur dari situs www.muslm.org, diterjemahkan oleh Ustadz Firanda Andirja seperti dilansir dari situs firanda. Selengkapnya:

Seorang istri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415 H, ia berkata :
Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya.
Ia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi.

Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang putri setelah setahun pernikahan kami.
Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu.

Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan putriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari yaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik.
Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, ia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak.

Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan putri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…
Kami senantiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan ia tetap dalam kondisinya, tidak ada perubahan sama sekali.
Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, karena suamiku telah mati otaknya, dan tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya.

Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- yaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.
Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.

Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah putri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur'an padahal umurnya kurang dari 10 tahun.
Dan aku telah mengabarkannya tentang kondisi ayahnya yang sesungguhnya. Putriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.
Putriku adalah seorang yang taat beragama, ia senantiasa sholat pada waktunya, ia sholat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun.

Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah putriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.
Putriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
Pada suatu hari di tahun 1410 H, putriku (kini berusia 19 tahun) berkata kepadaku : Ummi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku...Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.

Putriku bercerita : Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqoroh hingga selesai. Lalu rasa kantukpun menguasaiku, akupun tertidur.
Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan sholat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.

Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa kantuk, sedangkan aku masih di tempat sholatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku;
"Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??"

Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-.
Aku berkata dalam do'aku, "Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut'aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…
Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…

Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…
Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…"
Lalu rasa kantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh. Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., "Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?".

Akupun bangun karena suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun.
Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…

Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar.
Baca: Astaga. Tukang Pijat Ini Mengaku Sisihkan Upahnya Demi Jadi Pelanggan PSK Anak
Ia berkata, "Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!". Maka aku berkata kepadanya, "Aku ini putrimu Asmaa'".

Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para dokter. Mereka pun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun keheranan.
Salah seorang dokter Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu…".  Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang 
belulang yang telah kering…".

Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata;
Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat melaksanakan sholat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan sholat duha atau tidak..??

Sang istri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun.
Lalu setelah itu kami pun dianugerahi seorang putra, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua.
Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga putrinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga bisa menjadi istri yang baik bagi suamiku…meskipun ia dalam keadaan koma…

Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qodoo' kecuali do'a…barang siapa yang menjaga syari'at Allah maka Allah akan menjaganya.
Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…

Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…
Maka ketuklah pintu langit dengan do'a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin 

sumber : palembang.tribunnews.com

Aku Bersabar Meski Mama Papa Sudah Mengingatkan, Namun Aku Begitu Syok Ternyata Suamiku Begitu Tega Telah...



9Trendingtopic - Mendapatkan jodoh dan menikah dengan orang yang kita sayang serta disukai pula oleh keluarga sudah pasti menjadi salah satu hal paling membahagiakan didalam hidup kita.
Bisa bersanding berdua sekaligus menjalani bahtera rumah tangga bersama-sama tentu menjadi harapan yang ingin diwujudkan secara harmonis.
Sayangnya, beberapa ornag justru harus menghadapi kenyataan pahit jika sosok yang dulu sangat disayang tiba-tiba berubah perangai dan tindak-tanduknya menjadi sosok yang  tak diinginkan.

Hal serupa pun dirasakan wanita yang satu ini.
Demi menikah dnegan sang pujana hati, wanita ini awalnya sampai menolak dan tak memperdulikan peringatan dari keluarganya tentang sang calon suami.
Mau tahu apa yang terjadi setelahnya?
Berikut ini kisahnya, seperi dilansir dari ceritacurhat.com.

Kisah ini adalah cerita nyata hidupku yang menderita karena tidak mendengar nasehat orang tua.
Aku menikahi pria yang salah, kupikir dia cinta sejatiku, prilakunya yang baik dan sopan ternyata hanyalah topeng.

Suami pilihanku ternyata seorang pecandu dan doyan selingkuh.
Aku yang tidak mau mendengar nasehat orang tua dan kabur dari rumah sekarang harus gigit jari menyesal dan mengutuk diri, meski itu tidak ada gunanya lagi.

Assalamu’alaikum. Wr.wb… Sebelumnya perkenalkan nama saya Misriyani dari Purbalingga. Umur saya sekarang 25 tahun.
Tahun 2003 yang lalu usai tamat sekolah aku coba untuk ikut saudaraku merantau ke Tanjung Pinang.
Singkat cerita sebagai gadis desa yang lugu jujur aku kaget dengan kehidupan yang ada di kota tersebut, waktu demi waktu berlalu, akupun mulai bisa beradaptasi dan punya banyak teman.
Dan jujur banyak yang bilang aku mirip orang indo, cantik, ramah.
Banyak juga cowok yang naksir dan mau jadi pacar aku, tapi semua aku tolak dengan alasan belum mau pacaran.

Bulan berganti, siang itu waktu aku sedang berjualan di kedai kopi datang seorang pria, dia ulurkan tangan dan ngajak kenalan.
Namanya Faizal. orangnya tidak ganteng, tapi banyak humor.
Setelah perkenalan kami, kita jadi sering ketemu.
Aku tidak tau apa yang aku rasakan, yang aku tau aku cuma nyaman jika bersama dia, kita jadi sering jalan bareng.

Lama -lama hubungan kami diketahui saudara-saudaraku, dan saudaraku tidak ada yang mendukung hubunganku bersama dia, dengan alasan dia bukan orang baik-baik, dia pelarian dari kota Bekasi, bahkan bapaknya punya banyak istri.
Semua kabar buruk tentang dia tidak aku pedulikan, aku tetap nyaman bersamanya.
Setahun berlalu rasa kangen sama keluarga rasanya tak tertahankan.
Awal tahun 2004 kami pulang ke kota masing-masing.

Lama dirumah, jauh dari kekasih rasanya kesepian.
Aku coba menghubungi Faizal serta tanya soal kerjaan, dia jawab ada, datang aja kesini.
Rasa bangga serta bahagia dengar kabar dari dia.
Spontan kabar ini langsung aku ceritakan pada ortuku.
Tapi jawab ortuku, GAK BOLEH, gak boleh ke tempat dia dan gak boleh menyayangi dia.
Alasannya ntar kayak bapaknya banyak istri.
Tapi tekadku sudah bulat, diam-diam aku minggat ke Jakarta.

Singkat cerita aku udah nyampe Jakarta dan dijemput Faizal, aku dikenalkan ke orang terdekatnya, sejak itu aku kenal keluarganya, dan sejak itu pula aku tinggal bersama mereka.
Suka dan duka kami lalui bersama.
Dan dari situ pula aku tahu kalau Faizal seorang pecandu gele dan juga preman, tapi walau demikian aku tetap sayang padanya.

Tak terasa setahun berlalu dan hal yang tidak dikira terjadi.
Desember 2004 aku hamil, Januari 2005 aku pulang berdua sama Faizal, dan tepatnya 20 Januari 2005 aku resmi jadi istri Faizal.
Bahagia rasanya pada waktu itu.

Tapi apa yang orang tua katakan terbukti benar ketika usia kehamilanku masuk 7 bulan.
Faizal sering pergi dan selingkuh dengan wanita lain.
Teganya Faizal saat aku hamil tua dia malah enak-enakan di rumah kekasih barunya, menghabiskan duit yang harusnya aku pakai untuk biaya persalinan.
Aku teringat pesan orang tuaku dulu, aku malu mengakui bahwa mereka benar, apalagi melaporkan kelakukan Faizal ke mereka.

Kelakuah Faizal tidak berubah setelah anak kami lahir.
Dia semakin jarang pulang dan kalaupun di rumah dia lebih sering marah-marah itupun marahnya karena masalah di luar rumah yang dia bawa pulang dan aku yang menjadi pelampiasan amarahnya.
Orang tuaku di desa sudah tahu kelakukan Faizal dan berapa kali mereka mengajakku kembali pulang, tapi aku menolak karena menganggap Faizal adalah pilihanku sendiri, aku tidak mau menyusahkan orang tuaku.

Sampai akhirnya ketika anakku berumur 6 bulan mereka menjemputku karena sudah tidak tahan melihat penderitaanku.
Sekarang anakku sudah kelas 1 SD, dan selama itu Faizal hanya sekali membesukku, tidak ada biaya yang dia kirimkan ke aku dan anaknya, tapi kata cerai pun tidak ada jadi secara hukum sampai sekarang aku masih istri sahnya.

Aku tidak tahu harus berbuat apa, setiap hari yang kulakukan hanya menunggu kalau-kalau Faizal datang meminta maaf dan menjemputku.
Tapi itu seperti menunggu hujan di musim kemarau, tidak mungkin terjadi.

Malah yang kudapat adalah berita pernikahan Faizal dengan wanita lain.
Ah sungguh malang hidupku, ini mungkin buah dari dosaku sendiri yang tidak mendengar perkataan orang tua.

semoga ada pelajaran yang bisa kita petik dari kisah di atas...

sumber : palembang.tribunnews.com

Merinding! Kisah Nyata Mati Bunuh Diri Masalah Cinta, Jazadnya Begitu Mengerikan !!



9Trendingtopic - Cinta seringkali membuat orang hilang akal dan bertindak diluar kewajaran.
Seperti kisah berikut diceritakan oleh Sohleh, seorang pengurus jenazah di Malaysia berikut.
Dilansir dari salah satu halaman berita Malaysia, Ohbulan, Sohlen menceritakan pengalamannya ketika harus mengurus jenazah seorang lelaki yang meninggal karena bunuh diri.

Lelaki tersebut diketahui meninggal dengan cara menggantung diri di kipas yang berada di atap kamarnya.
Ia merasa patah hati karena sang kekasih pergi meninggalkannya dan malah lebih memilih untuk menikah dengan orang lain.
Padahal usia lelaki tersebut masih terbilang sangat muda, 20 tahun.

Sohleh menceritakan pengalaman ini dengan tujuan agar orang-orang mempu mengambil hikmah, bahwa bunuh diri sungguh sesuatu yang sangat dibenci oleh Tuhan.
Cerita bermula ketika Sohleh dan ketiga temannya harus mengurus surat-surat di ruang penyimpanan jasad sebuah rumah sakit.
Jenazah dari lelaki muda tersebut memang sudah beberapa hari diletakkan di sana dan tidak ada satu orang pun yang mengambilnya.
Keluarga lelaki tersebut ternyata memang sudah menyatakan jika mereka tidak bersedia mengurus jenazahnya.

Sebagai seseorang yang berprofesi sebagai pengurus jenazah, Sohleh pun harus menjalankan kewajibannya.
Ia terlebih dahulu mengisi beberapa dokumen sebelum mengambil jasad tersebut.
Meski telah terbiasa berurusan dengan jenazah, namun entah mengapa kali itu ia merasakan hal yang berbeda.
Sohlen merasa sedikit gugup sehingga ia pun tak henti-hentinya berdoa.

Dan benar saja, ketika ia menarik laci mayat tempat jenazah disimpan, ia mendapati situasi yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Kondisi wajah lelaki muda yang bunuh diri itu tampak menyeramkan dengan wajah berkerut dan lidah menjulur seakan menahan kesakitan yang amat sangat.
Terdapat juga bekas lebam akibat jeratan di lehernya.

Keanehan kembali terjadi ketika Sohleh dan teman-temannya hendak mengangkat jenazah itu ke atas kereta jasad.
Masing-masing dari mereka yang berjumlah 4 orang memegang anggota tubuh jenazah, tapi jenazah itu sama sekali tak terangkat.
Sosok tubuhnya terasa sangat berat meski ia masih berumur 20 tahun.
Berat jenazah tersebut terasa begitu tidak normal sehingga Sohleh dan rekannya harus merasakan sakit di sekujur tubuh demi bisa mengangkat jenazah ke atas kereta.

Keanehan ternyata tak hanya berhenti sampai disitu saja.
Tuhan tampaknya benar-benar ingin menunjukkan kuasanya.
Saat menyucikan jenazah, najis yang keluar dari dubumya amat banyak dan tanpa henti.
Sohleh berusaha terus mengurut perut jenazah tersebut agar sisa kotoran dalam tubuhnya bisa dikeluarkan.

Namun kotoran tersebut tampaknya tidak bisa habis.
Setiap jenazah digerakkan, setiap kali itu pula najisnya kembali keluar.
Hingga akhirnya Sohleh terpaksa menyumbat dengan kapas sebanyak mungkin agar proses mengurus jenazah itu bisa berlanjut.
Sohleh pun berlanjut pada proses mengkafani.

Namun perasaan lega hanya sebentar saja hadir.
Sekali lagi Sohleh diuji ketika mengkafani jenazah, darah mengalir dari mulut dan hidungnya.
Situasi seperti ini lumrah ditemui saat mengurus jenazah yang mengalami pendarahan di dalam.

Tanpa membuang waktu Sohleh lalu menyucikan darah tersebut dengan kapas hingga jenazah selesai disalati dan siap dikebumikan di tanah perkuburan.
Semoga kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, jika bunuh diri hanyalah pikiran bodoh dan bukanlah jalan untuk menyelesaikan sebuah permasalahan

sumber : palembang.tribunnews.com

Subhanallah! Meski Koma Pria Ini Bangun Ketika Waktu Shalat Tiba, Kamu Pasti Ingin Nangis Waktu Dengar Apa yang Ia Kumandangkan !!


9Trendingtopic - Banyak kejadian di dunia yang mungkin terjadi tanpa kita ketahui.
Seiring dengan berkembangnya teknologi, masyarakat pun kini dapat lebih mudah menerima informasi mengenai apa yang terjadi di negara lain.
Belum lama ini pun, netizen dibuat terharu sekaligus menangis dengan beredarnya sebuah video yang cukup menguras mata.
Betapa tidak, dalam video yang diketahui diunggah oleh akun Life in Saudi Arabia, nampak jelas seornag pria berusia lanjut sudah terbaring tak berdaya di atas ranjang di sebuah rumah sakit.

Kondisi pria ini sangat memprihatinkan dan sudah bisa ditebak siapapun yang melihatnya pasti merasakan kesedihan.
Tapi bukan hanya itu saja yang membuat netizen merasa tersentuh.
Pria ini justru melantunkan azan dengan sekuat tenaga, meski kondisinya sangat memprihatinkan.
Beberap netizen yang berkomentar menyebut jika pria ini adalah seorang bilal di salah satu masjid yang berlokasi di Arab Saudi.

Meski koma, pria ini diketahui sering terbangun setiap kali waktu salat tiba.
Saat bangun di waktu salat, pria ini selalu melantunkan azan, yang membuat siapapun yang mendengarnya merasa terharu.
Sayangnya, hingga kini belum diketahui pasti dimana lokasi pria ini dirawat, termasuk identitasnya.

Pernah Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan,
"Sesungguhnya seorang hamba hanyalah akan diberi balasan sesuai amalan yang dia lakukan. Barangsiapa meninggalkan suatu amalan -bukan kerana uzur syarie seperti sakit, bersafar, atau dalam keadaan lemah di usia tua-, maka akan terputus darinya pahala dan ganjaran jika dia meninggalkan amalan tersebut." [Lihat Fathul Baari lii Ibni Rajab, 1/84]

Namun perlu diketahui bahawa apabila seseorang meninggalkan amalan soleh yang biasa dia rutinkan kerana alasan sakit, sudah tidak mampu lagi melakukannya, dalam keadaan bersafar atau uzur syarie lainnya, maka dia akan tetap memperoleh ganjarannya.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi sallallahu alaihi wa sallam,
إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا
"Jika seseorang sakit atau melakukan safar, maka dia akan dicatat melakukan amalan sebagaimana amalan rutin yang dia lakukan ketika mukim (tidak bemusafir) dan dalam keadaan sihat." [HR. Bukhari no. 2996]



sumber : palembang.tribunnews.com

Naudzubillahmindzalik!! Jenazah Pria Ini Bermuka Gosong dan Terus Dililit Ular Besar Hingga DiMakamkan, Ternyata Semasa Hidupnya..



9Trendingtopic - Media sosial kembali di hebohkan dengan beredarnya kabar mengerikan. Tak diketahui dari mana sumbernya. Namun broadcast di media sosial ini sungguh membuat bulu  kuduk bergidik.

Memberitahukan sebuah peristiwa kematian yang terjadi di Bonoyolo, Solo. Kisah seseorang yang meninggal ini jadi viral, lantaran setelah disucikan dan dikafankan, tiba-tiba ada seekor ular besar yang tidak diketahui dari mana asalnya melingkar di leher jenazah.

Hal itu membuat warga menjadi panik, hingga akhirnya ular itu dilepaskan dan diletakkan di kandang. Anehnya, sewaktu kain kafan dibuka saat akan melepaskan ular ini. Wajah jenazah menjadi hitam legam seperti gosong.

Setelah itupun jenazah direncanakan dibawa ke masjid setelah dikafani, dan akan di shalatkan. Mendadak bikin semua orang kaget, tiba-tiba ular itu sudah ada lagi di dalam kain kafan jenazah. Astagfirullah....!

Kejadian selengkapnya yang diceritatakan dalam broadcast adalah sebagai berikut...

Sbg bahan renungan bersama : Kisah nyata seseorang yg meninggal dunia (kejadiannya di Bonoloyo, Solo) setelah di kafankan dan akan di sholatkan, tiba-tiba ada seekor ular besar, entah dari mana dan melingkar di leher jenazah dan membelitnya, sehingga warga sekitar menjadi kaget dan panik, akhirnya ular itupun di lepaskan dari leher jenazah dan ditaruh di kandang... sewaktu kain kafan dibuka (untuk melepaskan ular dari leher jenazah) terlihat wajah jenazah itu menjadi hitam legam. Tatkala jenazah akan dibawa ke Masjid untuk di sholatkan, tiba2 ular itu telah berada lagi di dalam kain kafan dan membelit jenazah...

bertanyalah sang Ustad kpd keluarga jenazah kenapa bisa seperti ini, apa perbuatan Almarhum ini selama hidupnya... fihak keluarga menjawab SELALU MENIGGALKAN SHOLAT... Ustad itupun tanpa bertanya lebih jauh lagi kemudian berkata : "mari kita langsung sholatkan disini, tdk usah dibawa ke Masjid". 

Akhirnya jenazah dishalatkan!

Sesampai di pemakaman, sang ular itupun ikut di kuburkan karena tak mau lepas dan terus menggigit jenazah. 

Wallohu a'lam bisshowab... semoga kisah nyata diatas menjadi pelajaran untuk kita semua untuk jangan pernah meninggalkan Sholat, karena Sholat adalah kewajiban kita kpd Allah SWT...


Hikmah: Terlepas dari benar atau tidaknya kabar ini adalah shalat fardhu 5 waktu adalah wajib. Jangan sampai tinggalkan apapun alasannya. Setiap kesulitan telah diberikan keringanan yang sepadan agar semua umat muslim dapat mengerjakan ibadah wajib ini.

sumber : wajibbaca.com
loading...