Sirnanya Kemuliaan di Penghujung Ajal, Kisah Ulama Besar yang Meninggal dalam Keadaan Kafir !

Sirnanya Kemuliaan di Penghujung Ajal, Kisah Ulama Besar yang Meninggal dalam Keadaan Kafir !

loading...
loading...


9Trendingtopic - Tak ada seorangpun yang tahu bagaimana akhir dari perjalanan hidupnya di dunia ini. Apakah menjadi baik atau sebaliknya, malah menjadi buruk pada akhir ajalnya, wal'iyadzubillah. Hanya Allah SWT-lah pemilik skenario itu.

Kisah seorang ahli ibadah berikut ini patut menjadi bahan pelajaran bagi kita semua. Syekh Taqiyuddin al-Hanbali dalam Mashaib al-Insan min Makaid as-Syaithan menukilkan perjalanan hidup Syekh Barshisha. Sebelum akhir hidupnya, Barshisha merupakan seorang hamba Allah yang ahli ibadah dan sangat baik budi pekertinya.
Selama hidupnya, dia mempunyai 60 ribu anak murid dan semua anak muridnya itu menjadi ulama dan para wali Allah SWT.

Saking luar biasanya, Barshisha, dalam perkara ibadah, sampai-sampai menarik decak kagum para malaikat. "Mengapa kalian kagum dengan Barshisha? Padahal, Aku lebih tahu. Barshisha itu akan kafir dan masuk neraka jahanam selama- lamanya," demikian dialog Sang Khalik dengan para malaikat, seperti dinukilkan oleh Syekh Taqiyuddin dalam kitabnya tersebut.

Kisah yang sama juga ditulis oleh sejumlah ulama, di antaranya, Imam at-Thabari dalam tafsir surah al-Hasyr ayat 16-17 dari riwayat Ibnu Mas'ud, Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, dan al-Bidayah wa an-Nihayah Juz II, serta Imam al-Qurthubi.  Pernyataan Allah itu ternyata didengar iblis.

Iblis yakin bahwa Sang Alim tersebut akan binasa dalam perangkapnya. Benar saja, iblis pun mulai menyiapkan agenda-agenda untuk memperdaya sasarannya itu. Iblis mendatangi kediaman Barshisha. Iblis menyamar sebagai seorang hamba Allah yang saleh dan taat. Ia meminta bertemu dengan Barshisha. Kemudian, Barshisha memperkenalkan diri dan bertanya pada tamunya.

"Engkau ini siapa dan apa maksudmu?" Iblis menjawab, "Aku ini hamba Allah yang beribadat kepada-Nya dan aku ingin pula membantu tuan dalam hal-hal ibadah." Kemudian, Barshisha berkata kepadanya.  "Barang siapa bermaksud beribadah kepada Allah maka sesungguhnya Allah akan mencukupinya sebagai teman baik."

Syahdan, selama beberapa hari, iblis menampakkan kegigihan dan keuletannya beribadah. Iblis beribadah tiga hari tiga malam berturut-turut tanpa tidur, makan, dan minum. Pemandangan ini pun membuat Barshisha takjub.
"Aku ini pernah tidur dan aku ini makan dan minum sedangkan engkau tidak makan sama sekali, padahal aku beribadah kepada Allah bertahun- tahun tanpa sanggup meninggalkan makan minum.  Oleh karena itu, apakah dayaku agar aku ini bisa menjadi seperti engkau?" tanya Barshisha.

Iblis menjawab, "Pergilah engkau dari tempat ini dan kerjakan larangan Allah, kemudian setelah itu tobatlah kepada Allah kerana Dia Maha Pengasih maka engkau akan mendapat kemanisan bertobat kepada-Nya."

Barshisha bertanya, "Bagaimana aku akan men durhakai Allah setelah aku menyembah-Nya sekian lama?"
Iblis menjawab, "Manusia apabila berdosa memerlukan keampunan atas segala dosa-dosanya."
Barshisha bertanya, "Apakah dosa yang baik saya kerjakan?" Iblis menjawab, "Zina."

Barshisha berkata, "Kalau begitu, pasti aku tidak melaku kannya."  Iblis menjawab, "Engkau bunuh seorang hamba Allah yang mukmin."  Barshisha berkata, "Aku tidak akan lakukannya." Iblis berkata lagi, "Kalau begitu minum sajalah air yang memabukkan, ini adalah yang lebih gampang dan ini adalah tidak ada hubungan dengan orang lain."

Barshisha bertanya, "Di manakah aku akan mendapatkan minuman ini?" Iblis berkata, "Engkau pergi ke salah satu kampung yang menjual minuman yang memabukkan."  Dengan serta-merta, Barshisha pun pergi ke tempat yang ditunjukkan Iblis itu. Setelah ke tempat itu, Barshisha pun menemui seorang wanita cantik lagi cakap yang pekerjaannya menjual minuman keras.

Barshisha membeli sebotol khamar dari perem- puan itu, kemudian meminum hingga ia pun mabuk.
Dalam kondisi mabuk itulah, Barshisha lantas menzinai perempuan itu. Kemudian, dengan tiba- tiba, suami sang perempuan tiba di rumah. Merasa terpojok, akhirnya Barshisha membunuhnya.

Setelah kejadian itu, iblis kembali menyamar sebagai manusia biasa. Lantas, iblis membawa Barshisha kepada penguasa pada zaman itu.  Penguasa menjatuhkan hukuman bahwa Barshisha harus dipukul 80 kali akibat meminum khamar dan ditambah 100 kali karena berzina. Untuk pelanggaran terakhir, yaitu membunuh nyawa tak berdosa, Barshisha diganjar harus disalib.

Tatkala Barshisha dinaikkan ke tiang salib, iblis datang ketempat Barshisha. Iblis menyamar seorang lelaki yang baik. Iblis bertanya, "Bagaimanakah pendapatmu tentang keadaanmu sekarang?" Barshisha menjawab, "Malang bagi orang yang percaya kepada teman yang jahat, tentulah orangnya akan binasa."

Iblis menjawab, "Aku telah beribadat bersamamu sekian tahun lamanya, akulah yang menyebabkan engkau disalib. Jika engkau menghendaki turun dari tiang salib, aku akan menurunkan engkau."Barshisha menjawab, "Itulah yang aku maksudkan. Turunkanlah aku. Aku akan berikan apa yang kau pinta dariku."

Berkatalah iblis, "Nah, sujudlah kepadaku." Barshisha menjawab, "Bagaimana aku bersujud, padahal aku terikat di tiang ini?"  Iblis menjawab, \"Sujudlah dengan menganggukkan kepalamu." Maka, Barshisha pun mengisyaratkan kepalanya dengan maksud sujud kepada iblis. Dengan sujud Barshisha, kafirlah ia kepada Allah dan pada agama-Nya.

Lantas, apakah iblis tetap menolong Barshisha?

Tidak. Ketika ia telah berhasil menyesatkannya, ia lepas tangan. Iblis berkata, "Aku melepas diri dari engkau (Barshisha), aku takut kepada Allah, Tuhan yang Mahabesar serta sekalian alam." (QS al-Hasyr [59]: 16).

Tugas kita sebagai manusia yang lemah dan tak berdaya ini adalah berusaha bagaimana agar bisa mendapatkan pertolongan Allah SWT dari awal kehidupan sampai akhir. Ka- rena, sesungguhnya ke suk sesan seorang ham ba bukan ketika hidup, melainkan pada pengujung hidupnya.

Dan, karena Dialah pemilik hati sesungguhnya. "Sesungguhnya kalbu- kalbu keturunan anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya."
(HR Muslim dari Abdullah bin Amr RA).

sumber : khazanah.republika.co.id
loading...

ADS

Sirnanya Kemuliaan di Penghujung Ajal, Kisah Ulama Besar yang Meninggal dalam Keadaan Kafir !
4/ 5
Oleh